Pertamina Gelar Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga Gunungkidul, Pasok Bahan Baku Gudeg Yogyakarta

Penulis: Kemal Batubara  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 08:12:02 WIB
Panen raya buah nangka berlangsung di Hutan Wanaboga, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul.

PT Pertamina (Persero) menggelar panen raya buah nangka di Hutan Wanaboga, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi desa. Kawasan hutan seluas 87 hektare itu dikembangkan untuk memasok nangka muda atau gori bagi industri kuliner gudeg Yogyakarta yang selama ini masih defisit bahan baku. Pengelolaannya melibatkan sekitar 400 petani lokal di Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo.

GUNUNGKIDUL — Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita menyatakan panen raya di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, itu merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Pertamina Foundation bertindak sebagai pelaksana program bersama Universitas Gadjah Mada dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY. Kegiatan panen dan penanaman lanjutan pohon nangka berlangsung pada Sabtu (3/10).

Kebutuhan nangka muda untuk industri gudeg Yogyakarta diperkirakan mencapai sembilan ton per hari. Produksi lokal dari wilayah DIY baru menyuplai dua ton per hari, sehingga masih defisit tujuh ton yang selama ini dipenuhi dari luar daerah.

Defisit Bahan Baku Gudeg Capai Tujuh Ton per Hari

Pengembangan kawasan hutan di Gunungkidul diarahkan menutup kekurangan pasokan gori tersebut. Arya menyebut optimalisasi lahan hutan menjadi langkah strategis memperkuat ketersediaan bahan baku secara mandiri.

"Optimalisasi kawasan hutan di Gunungkidul diharapkan dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketersediaan bahan baku secara mandiri sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar," kata Arya.

Komisaris Pertamina Nanik S Deyang menambahkan keterlibatan perusahaan merupakan bentuk kepedulian dunia usaha terhadap ketahanan pangan nasional. Menurut dia, Yogyakarta yang identik dengan gudeg belum memiliki sumber bahan baku mandiri.

"Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri, sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan," ujar Nanik di sela kegiatan panen bersama warga.

400 Petani Garap Lahan Karst dengan Sistem Tumpang Sari

Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka mengelola kawasan tersebut dengan anggota sekitar 400 petani lokal. Lahan karst Gunungkidul yang cenderung kering pada musim kemarau digarap melalui sistem tumpang sari dan dukungan pengairan berbasis energi bersih.

Pengembangan kawasan hutan pangan itu mendapat dukungan Pemerintah Daerah DIY serta arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Arahan tersebut menyangkut pemanfaatan kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

President Director Pertamina Foundation Agus Mashud S Asngari menegaskan keberhasilan pengelolaan hutan tidak cukup diukur dari kegiatan seremonial. Ukuran utamanya adalah keberlanjutan dampak bagi masyarakat dan lingkungan.

"Ukuran keberhasilan kita adalah seberapa besar dampak yang tersisa lima hingga sepuluh tahun mendatang. Melalui Wanaboga Nangka, kita membuktikan bahwa ketika pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha bergandengan tangan, hutan tidak hanya lestari, tetapi juga memberi pangan, menjaga iklim, dan menyejahterakan desa," ujar Agus.

Hilirisasi Produk Pangan dan Bantuan untuk Warga Sekitar

Direktur Penunjang Bisnis Pertamina M Erry Sugiharto menambahkan hilirisasi produk pangan berbasis potensi lokal menjadi kunci memperkuat ekonomi desa. Dalam jangka panjang, kawasan itu juga diarahkan menjadi lumbung pangan, sumber bahan baku kuliner, dan kawasan eduwisata.

Pertamina Foundation menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga untuk mendukung mobilitas hasil panen kelompok tani. Bantuan lain berupa 20 paket pendidikan Sesama berisi tas dan alat tulis sekolah bagi anak-anak di sekitar kawasan hutan.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top