YOGYAKARTA — Kepala BPJS Kesehatan Cabang Yogyakarta Subkhan menyampaikan hal itu dalam media gathering kolaborasi BPJS Kesehatan Yogyakarta dan Sleman, Jumat (02/10). Menurut dia, kehadiran faskes di wilayah pinggiran akan lebih cepat dijangkau masyarakat.
Faskes di kawasan pinggiran juga dinilai memperkuat program pencegahan penyakit kronis sebelum kondisi pasien memburuk. Pihaknya berharap pemerintah dan swasta menghadirkan lebih banyak fasilitas kesehatan di area tersebut.
Mengapa Pemerataan Faskes Jadi Tantangan Utama di DIY
"Tantangan sekarang bukan jumlahnya, tetapi pemerataannya. Masih ada wilayah-wilayah yang belum tersentuh (faskes)," kata Subkhan.
Pernyataan itu menegaskan bahwa persoalan akses layanan kesehatan di DIY tidak semata soal kuantitas fasilitas. Sebaran faskes yang belum merata membuat sebagian warga di pinggiran harus menempuh jarak lebih jauh untuk berobat.
Penyakit Katastropik Telan Rp1,8 Triliun dari Biaya Kesehatan DIY
Subkhan memaparkan, dari total biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan BPJS Kesehatan di wilayah DIY pada 2025, porsi terbesar terserap penanganan penyakit katastropik. Nilainya mencapai Rp1,8 triliun atau sekitar 34,09 persen.
Penyakit berat seperti jantung, gagal ginjal, stroke, dan kanker menjadi penyumbang terbesar pembiayaan tersebut. Tingginya biaya perawatan penyakit katastropik disebut menjadi tantangan besar yang harus diimbangi dengan penguatan pelayanan promotif dan preventif.
Digitalisasi Layanan Jadi Andalan BPJS Kesehatan
Selain mendorong keterlibatan faskes baru, BPJS Kesehatan terus mengoptimalkan digitalisasi layanan. Langkah itu ditempuh untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus efisiensi akses bagi peserta.
Dengan digitalisasi, peserta diharapkan tidak lagi terbebani proses administratif yang berbelit. Pemerataan faskes dan layanan digital disebut berjalan seiring untuk mempercepat akses warga ke layanan kesehatan.
Peran Pemerintah dan Swasta Diperlukan untuk Jangkau Warga Pinggiran
BPJS Kesehatan menilai perluasan jaringan faskes tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah daerah dan pihak swasta diminta ikut membuka layanan di wilayah yang selama ini belum terjangkau.
Bagi warga pinggiran DIY, kehadiran faskes terdekat berarti waktu tempuh berobat lebih singkat. Upaya pencegahan penyakit kronis pun bisa dilakukan lebih dini sebelum kondisi pasien memburuk dan biaya perawatan membengkak.