Pencarian

Jindi South Jambi B Ajukan POD Lapangan BBR, Target Gas 200 MMscfd

Senin, 05 Oktober 2026 • 11:23:01 WIB
Jindi South Jambi B Ajukan POD Lapangan BBR, Target Gas 200 MMscfd
PT Jindi South Jambi B menyelesaikan pembahasan rencana pengembangan Lapangan BBR bersama SKK Migas.

DI YOGYAKARTA — PT Jindi South Jambi B menyelesaikan pembahasan rencana pengembangan Lapangan BBR bersama SKK Migas dan akan segera menyerahkan Plan of Development (POD) ke Menteri ESDM. Lapangan yang mencakup Bugil, Bungkal, dan Rayun itu ditargetkan memproduksi gas hingga 200 MMscfd pada puncak produksi.

Lapangan BBR berada di wilayah kerja Jindi South Jambi B, Sumatra. Pengembangan kawasan ini masuk daftar proyek hulu migas yang diharapkan menambah pasokan gas domestik dalam beberapa tahun ke depan.

16 Sumur Baru dan Fasilitas Pemisahan CO2

Rencana pengembangan Lapangan BBR mencakup pengeboran 16 sumur pengembangan. Selain itu, ada lima kegiatan re-entry pada sumur eksplorasi yang sudah ada.

Infrastruktur pendukung yang akan dibangun meliputi jaringan pipa serta fasilitas pemisahan karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Kedua fasilitas ini bukan pelengkap, melainkan syarat utama agar gas dari lapangan tersebut layak dialirkan ke konsumen.

Tantangan terbesarnya ada pada kualitas gas. Kandungan CO2 di Lapangan BBR tercatat mencapai sekitar 51,2%, jauh di atas rata-rata lapangan gas konvensional. Kandungan H2S juga tergolong tinggi sehingga membutuhkan pengolahan khusus sebelum gas bisa dijual.

Harga Gas Awal Tinggi, tapi Masih Lebih Murah dari LNG

Biaya investasi untuk memisahkan CO2 dan H2S membuat harga gas dari Lapangan BBR pada tahap awal diperkirakan relatif tinggi. Meski begitu, Djoko menegaskan harga tersebut masih kompetitif dibandingkan biaya gas yang bersumber dari LNG.

"Dikarenakan biaya yang cukup besar untuk memisahkan CO2 dan H2S tersebut, maka pada tahap awal harga gas cukup tinggi, namun masih lebih murah dibanding gas yang berasal dari LNG," ujar Djoko.

Setelah melewati 2040, harga gas dari lapangan ini berpotensi disesuaikan hingga setara dengan harga gas bumi tertentu (HGBT). Penyesuaian itu memberi gambaran bahwa biaya produksi diperkirakan turun seiring berjalannya waktu dan operasional fasilitas pemisahan yang makin efisien.

Dampak ke Pasokan Gas Domestik

Produksi puncak 200 MMscfd dari Lapangan BBR menjadi tambahan yang signifikan bagi neraca gas nasional. Pasokan sebesar itu cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik, industri pupuk, hingga jaringan gas rumah tangga di sejumlah wilayah.

Pemerintah sendiri tengah mendorong percepatan pengembangan lapangan gas baru untuk menutup gap antara produksi yang menurun dan permintaan domestik yang terus naik. Kehadiran Lapangan BBR menjadi salah satu andalan dalam peta pasokan gas jangka menengah.

Djoko menyebut lapangan ini akan memproduksi gas pada puncaknya sebesar 200 MMscfd. Angka itu menjadikan BBR salah satu proyek gas dengan kapasitas terbesar yang tengah disiapkan dari wilayah kerja di Sumatra.

Bagi PT Jindi South Jambi B, penyerahan POD menjadi tonggak penting sebelum masuk fase eksekusi. Setelah POD disetujui Menteri ESDM, tahapan berikutnya adalah penyusunan rencana kerja dan anggaran, lelang pengadaan, hingga pengeboran perdana.

Keberhasilan proyek ini akan bergantung pada kesiapan teknologi pemisahan CO2 dan H2S, struktur pembiayaan, serta kepastian harga gas yang bisa diterima pembeli domestik. Jika lancar, Lapangan BBR bisa memperkuat posisi gas sebagai tulang punggung transisi energi Indonesia menjelang 2040.

Follow www.jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks