YOGYAKARTA — Pemerintah Korea Selatan membuka ruang peninjauan atas kebijakan pengecualian wajib militer bagi atlet dan seniman berprestasi. Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Chae Hwi-young menyampaikan hal itu saat menjawab pertanyaan anggota parlemen Cho Gye-won dari Partai Demokrat dalam sidang audit tahunan parlemen terhadap kementeriannya.
Chae menegaskan pihaknya akan menampung pandangan dari komunitas olahraga dan seni sebelum merumuskan langkah lanjutan. Pemerintah juga akan berkonsultasi dengan Kementerian Pertahanan Nasional dan Administrasi Tenaga Kerja Militer.
“Kementerian akan mendengarkan pandangan dari komunitas olahraga dan seni serta berkonsultasi dengan Kementerian Pertahanan Nasional dan Administrasi Tenaga Kerja Militer untuk merumuskan langkah-langkah komprehensif terkait masalah ini, mengingat hal tersebut telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat,” kata Chae.
Aturan Wajib Militer dan Jalur Pengecualian yang Berlaku
Wajib militer di Korea Selatan berlaku bagi pria yang memenuhi persyaratan fisik, dengan masa tugas sekitar 18 hingga 21 bulan. Atlet dan seniman tertentu yang meraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi yang ditetapkan pemerintah dapat memperoleh pengecualian dari kewajiban tersebut.
Untuk atlet, fasilitas itu antara lain diberikan kepada peraih medali Olimpiade serta medali emas Asian Games. Kebijakan ini kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pemain tim nasional sepak bola U-23 Korea Selatan merayakan status pengecualian mereka usai meraih medali emas Asian Games pada Sabtu.
Kontroversi Perayaan Atlet dan Kritik Publik
Salah satu pemain, Yang Min-hyeok, menuai kritik setelah mengatakan dirinya lebih berfokus mendapatkan pengecualian wajib militer dibandingkan kemenangan medali. Pemain lainnya, Park Seung-soo, juga mendapat sorotan setelah mengunggah foto mengenakan topi yang umumnya digunakan oleh orang yang telah menyelesaikan wajib militer.
Dua pernyataan itu memperkuat perdebatan lama soal apakah pengecualian bagi atlet berprestasi masih sejalan dengan prinsip keadilan bagi warga yang tetap menjalani wajib militer.
36 dari 43 Penerima Pengecualian di Asian Games Berasal dari Sepak Bola dan Bisbol
Chae juga menyoroti distribusi penerima manfaat di sektor olahraga. Dari 43 atlet yang memenuhi syarat memperoleh fasilitas tersebut pada Asian Games tahun ini, sebanyak 36 di antaranya merupakan atlet sepak bola atau bisbol.
Komposisi itu menunjukkan pengecualian lebih banyak dinikmati cabang olahraga populer, bukan tersebar merata di seluruh disiplin yang dipertandingkan.
Kementerian Pertahanan Pertimbangkan Perubahan Sistem
Kontroversi tersebut terjadi ketika Kementerian Pertahanan Korea Selatan juga tengah mempertimbangkan perubahan terhadap sistem pengecualian. Pertimbangannya antara lain berkaitan dengan prinsip keadilan bagi warga yang tetap menjalani wajib militer serta berkurangnya jumlah penduduk yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan wajib militer.
Dua faktor itu membuat peninjauan tidak hanya menyangkut prestasi atlet dan seniman, tetapi juga kebutuhan negara atas personel militer di tengah tekanan demografis.
Manfaat Pengecualian Diakui, tetapi Persepsi Publik Berubah
Meski demikian, Chae mengakui kebijakan pengecualian tersebut selama ini memberikan kesempatan bagi atlet dan seniman berprestasi untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan kemampuan mereka.
“Namun, persepsi publik mengenai wajib militer dan nilai yang diberikan pada prinsip keadilan tampaknya telah berubah seiring berjalannya waktu,” ujarnya.
Pernyataan itu menandakan peninjauan tidak otomatis mengarah pada penghapusan pengecualian. Arah kebijakan baru akan bergantung pada hasil konsultasi lintas kementerian serta masukan komunitas olahraga dan seni.