Jogja Halal Fest #3 Targetkan 70.000 Pengunjung, Dorong Yogyakarta Jadi Pusat Ekosistem Halal Global

Penulis: Hendri Saputra  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 17:13:01 WIB
Peluncuran Jogja Halal Fest #3 di Yogyakarta ditandai dengan pemukulan rebana oleh panitia dan mitra strategis, Kamis (30/7/2026).

YOGYAKARTA — Jogja Halal Fest (JHF) #3 resmi diluncurkan Kamis (30/7/2026) dengan ambisi besar: mengubah Yogyakarta menjadi hub ekosistem ekonomi syariah yang berdaya saing internasional. Target kunjungan dinaikkan dua kali lipat dari edisi sebelumnya, dari 37.000 menjadi sekitar 70.000 orang.

Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY, Prof Edy Suandi Hamid, menyebut potensi ekonomi syariah di Yogyakarta sudah memiliki fondasi kuat. Sektor fesyen, pendidikan, pariwisata ramah muslim, dan kuliner dinilai paling siap dikembangkan untuk bersaing di tingkat nasional maupun global.

Belajar dari Festival Halal Bangkok

Edy mengaku tersentil dengan penyelenggaraan Mega Halal Festival di Bangkok yang justru lebih besar meski populasi muslim di Thailand minoritas. Ia menilai Yogyakarta seharusnya bisa melampaui capaian tersebut.

"Saya kagum dan tergelitik sekaligus malu karena di Bangkok yang penduduk muslimnya sedikit tetapi bisa menyelenggarakan 'Mega Halal Festival'. Harapannya JHF yang akan digelar Desember 2026 ini nanti lebih menasional bahkan mendunia," ujarnya saat sambutan.

"Di sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta juga sudah berkembang kajian ekonomi syariah. Kita sebenarnya sudah memiliki fondasi, tinggal bagaimana mengembangkannya," tambah Edy.

Kadin DIY Masuk sebagai Mitra Strategis

Penyelenggaraan tahun ini berbeda dari edisi sebelumnya. Organizing Committee (OC) menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY sebagai mitra strategis untuk memperluas jejaring bisnis hingga mancanegara.

Ketua Dewan Pertimbangan Kadin DIY, Tazbir Abdullah, menegaskan komitmennya mendorong produk halal lokal agar mampu bersaing di pasar ekspor. "Kami ingin membangun ekonomi masyarakat agar ada keseimbangan perekonomian, berkolaborasi dengan MES membangun ekonomi halal dan mendorong Jogja sebagai pusat produk-produk halal yang menasional dan mengglobal," ungkap Tazbir.

BI DIY: Lebih dari Sekadar Ajang Pemasaran

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menilai festival ini memiliki peran strategis membangun ekosistem ekonomi syariah yang berkelanjutan, bukan sekadar pameran produk. Sinergi antarpemangku kepentingan menjadi kunci agar industri halal menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di DIY.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur DIY, Noviar Rahmad, mengingatkan pentingnya menjaga kontinuitas pasokan produk halal. Sertifikasi halal dinilai tidak boleh berhenti sebagai formalitas administrasi semata.

"Keramahan kepada wisatawan muslim akan menambah inklusivitas pariwisata DIY. Sertifikasi halal tidak hanya formalitas, melainkan lebih dari itu harus bisa menjamin pasokan produk-produk halal yang ada kontinuitasnya," ujar Noviar.

30 Booth Sudah Terpesan Sebelum Peluncuran

Ketua OC JHF #3, Heroe Poerwadi, melaporkan persiapan berjalan positif. Sebelum acara resmi diluncurkan, puluhan tenant potensial sudah memesan tempat pameran.

"Sudah ada tiga puluhan booth yang terpesan, juga ada beberapa pihak berpengaruh yang menyatakan siap memberikan dukungannya. Untuk itu yang lain jangan sampai ketinggalan," imbaunya.

Puncak peluncuran ditandai pemukulan rebana oleh Heroe bersama Edy Suandi Hamid, Sri Darmadi Sudibyo, Mursida Rambe, Noviar Rahmad, dan Tazbir Abdullah. JHF #3 direncanakan menjadi etalase komprehensif bagi sektor fesyen, kuliner, pendidikan, hingga pariwisata ramah muslim di Yogyakarta.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: rejogja.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top