DI YOGYAKARTA — Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola. Franco Baresi, sosok yang identik dengan lini belakang kokoh AC Milan dan Timnas Italia, mengembuskan napas terakhirnya. Selama 20 musim membela satu klub saja, ia menjelma menjadi simbol ketangguhan, kecerdasan membaca permainan, dan kepemimpinan yang tak tergantikan di San Siro.
Baresi menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama AC Milan, mengawali debut pada April 1978 dan memegang ban kapten selama 15 musim. Bersama rekan-rekan setimnya seperti Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, dan Mauro Tassotti, ia membentuk lini pertahanan yang dianggap paling legendaris dalam sejarah klub.
Perjalanan Baresi di Milan tidak selalu mulus. Setelah menjuarai Serie A pada 1979, klub justru terseret skandal pengaturan skor pada 1980 dan harus turun kasta. Baresi tetap bertahan, bahkan membawa Milan kembali ke Serie A setelah dua musim yang penuh gejolak—termasuk periode degradasi kedua pada 1982.
Era keemasan dimulai pada 1986 ketika Silvio Berlusconi mengambil alih klub. Kedatangan pelatih inovatif Arrigo Sacchi dan trio Belanda—Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard—mengubah wajah Milan. Di bawah komando Baresi, Milan menghancurkan Steaua Bucharest 4-0 di final Piala Eropa 1989 dan mengulang sukses setahun kemudian dengan kemenangan 1-0 atas Benfica.
Sebagai seorang bek, Baresi nyaris mustahil meraih penghargaan individu puncak. Namun pada 1989, ia nyaris membuat sejarah dengan finis di posisi kedua perebutan Ballon d'Or, hanya kalah dari rekan setimnya sendiri, Marco van Basten. Prestasi ini membuktikan bahwa kualitasnya diakui melampaui batas posisi bermainnya.
Gelandang Inggris Ray Wilkins, yang pernah bermain bersamanya di Milan pada pertengahan 1980-an, memberikan penilaian setinggi mungkin. "Dia yang terbaik yang pernah saya main bersama," ujar Wilkins, sebuah pujian yang datang dari pemain yang pernah merasakan atmosfer Premier League bersama Manchester United.
Kisah Baresi tak lepas dari rivalitas sengit dengan Inter Milan. Kakaknya, Giuseppe Baresi, adalah kapten Inter selama bertahun-tahun. Ironisnya, Inter sempat menolak Franco karena dianggap "terlalu lemah" secara fisik sebelum akhirnya ia bergabung dengan Milan. Dalam derbi kota Milan, kedua kakak-beradik itu kerap berhadapan sebagai kapten, saling bersalaman dan melempar koin sebelum kick-off—sebuah momen yang menjadi salah satu gambar paling ikonik dalam sejarah sepak bola Italia.
Di level internasional, Baresi sempat menunggu lama untuk mendapatkan kepercayaan penuh. Ia hanya menjadi penonton saat Italia juara Piala Dunia 1982. Namun pada Piala Dunia 1990 di kandang sendiri, ia menjadi pilar utama. Pertahanan Italia tidak kebobolan selama 518 menit—sebuah rekor turnamen—hingga akhirnya dihentikan Argentina di semifinal melalui adu penalti.
Puncak karier internasionalnya terjadi pada 1994. Meski sudah berusia 34 tahun, Baresi membawa Italia ke final Piala Dunia melawan Brasil. Ia tampil heroik sepanjang turnamen, tetapi nasib berkata lain. Italia harus menyerah lagi melalui adu penalti. Itu menjadi turnamen besar terakhirnya sebelum resmi menggantung sepatu pada 1997.
Franco Baresi meninggalkan warisan yang tak lekang oleh waktu: dedikasi, loyalitas, dan standar kesempurnaan di lini belakang yang akan selalu dikenang para pecinta sepak bola di seluruh dunia.