JAKARTA — Laporan keuangan emiten kuartal II-2026 menjadi katalis utama penguatan indeks pada perdagangan Selasa (4/8). Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa, memperkirakan IHSG masih berpotensi rebound dan menguji resistance di level 6.250-6.300.
Penguatan indeks terjadi di tengah membaiknya sejumlah indikator ekonomi domestik. Indeks PMI Manufacturing Indonesia tercatat naik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari sebelumnya 46,9 pada Juni 2026, menandai level tertinggi sejak Februari 2026. Output produksi juga mengalami kenaikan setelah empat bulan berturut-turut melemah, meskipun kenaikannya relatif kecil.
Dari sisi harga, laju inflasi melambat menjadi 2,88 persen year on year (yoy) pada Juli 2026, turun dibandingkan 3,34 persen (yoy) pada Juni 2026. Perlambatan ini dipicu deflasi 0,14 persen month to month (mtm) akibat panen raya yang mendorong penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Penurunan harga BBM non-subsidi pada Agustus 2026 berpotensi membuat laju inflasi semakin landai. Sementara itu, defisit neraca perdagangan Juni 2026 menyempit menjadi 450 juta dolar AS dari defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Ekspor tumbuh 8,84 persen (yoy), membaik dari penurunan 5,73 persen (yoy) pada bulan sebelumnya, meskipun impor meningkat signifikan 34,27 persen (yoy).
Dari mancanegara, pelaku pasar mencermati rilis data pasar tenaga kerja Amerika Serikat pekan ini, mulai dari lowongan pekerjaan pada Selasa (4/8), data pekerjaan swasta pada Rabu (5/8), data PHK pada Kamis (6/8), hingga laporan nonfarm payrolls Juli 2026 pada Jumat (7/8). Data tersebut dirilis di tengah respons negatif investor terhadap keputusan suku bunga The Fed pekan lalu.
Komentar Chairman The Fed Kevin Warsh pasca keputusan kebijakan suku bunga dinilai gagal meyakinkan investor bahwa bank sentral dapat mengatasi inflasi. Di sisi lain, harga minyak mentah melemah lebih dari 4 persen mendekati level 80 dolar AS per barel setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan ke Iran, meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pelemahan harga minyak turut mendorong U.S. 10-Year Bond Yield turun sekitar 6 bps ke level 4,688 persen. Sementara itu, harga emas spot menguat 0,4 persen ke level 4.055 dolar AS per troy ons seiring pelemahan dolar AS.
Bursa Eropa dan Wall Street kompak menguat pada perdagangan Senin (3/8). Euro Stoxx 50 naik 1,14 persen, DAX Jerman menguat 1,45 persen, dan CAC 40 Prancis naik 1,22 persen. Di AS, S&P 500 melesat 1,48 persen ke level 7.600,50, Nasdaq Composite menguat 1,78 persen ke 28.776,80, serta Dow Jones Industrial Average naik 1,32 persen ke 53.178,41.
Adapun bursa regional Asia pagi ini bergerak bervariasi. Indeks Nikkei melemah 0,50 persen ke 63.438,00, Shanghai turun 0,04 persen ke 3.808,31, Hang Seng melemah 0,57 persen ke 25.862,72, dan Kospi turun 0,46 persen ke 6.228,54. Indeks Straits Times justru menguat 0,20 persen ke 5.623,86.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 2,27 poin atau 0,36 persen ke posisi 626,20 pada awal perdagangan hari ini.