YOGYAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan fluktuasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, mata uang Garuda berhasil mencatatkan penguatan tipis, sebuah sinyal yang dipantau ketat oleh para pelaku pasar dan pelaku usaha di dalam negeri.
Meski menguat, posisi Rp17.911 per dolar AS dinilai masih berada di level yang relatif tinggi. Angka ini menjadi perhatian utama bagi pengusaha yang bergantung pada bahan baku impor, termasuk sektor manufaktur dan industri makanan-minuman di berbagai daerah.
Tekanan terhadap nilai tukar disebut-sebut masih bersumber dari kuatnya indeks dolar AS di pasar global. Para analis menilai penguatan tipis hari ini lebih merupakan koreksi teknis setelah sebelumnya rupiah tertekan cukup dalam.
Pelaku pasar saat ini sedang menunggu keputusan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang hasilnya akan menjadi penentu arah pergerakan mata uang di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Di sisi lain, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas melalui intervensi pasar juga menjadi bantalan bagi rupiah.
Keputusan suku bunga acuan domestik pada akhir bulan ini akan menjadi katalis utama. Para pelaku pasar optimistis BI akan mempertahankan kebijakan hawkish untuk menahan pelemahan lebih lanjut.
Level kurs yang masih bertahan di kisaran Rp17.900-an berpotensi memberikan tekanan pada harga barang konsumsi. Sebab, sebagian besar komoditas pangan masih bergantung pada pasar internasional.
Fluktuasi kurs ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk terus memastikan stabilitas harga di pasar tradisional. Masyarakat diimbau untuk mencermati pergerakan harga kebutuhan pokok dalam beberapa pekan ke depan.
Data perdagangan menunjukkan, penguatan 22 poin tersebut terjadi pada transaksi awal. Namun, para analis mengingatkan bahwa sentimen pasar masih rapuh dan pergerakan bisa berbalik arah sewaktu-waktu seiring rilis data ekonomi AS.