YOGYAKARTA — Dua dekade setelah gempa bumi dahsyat menerjang Yogyakarta pada 2006, capaian pemulihan daerah itu kini menjadi rujukan nasional dalam membangun ketahanan bencana. BNPB secara khusus meminta Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi pembicara kunci di forum global yang akan digelar tahun depan.
Raditya Jati menyampaikan hal tersebut usai bertemu dengan Gubernur DIY di Jogja, Senin. Menurut dia, perjalanan panjang pemulihan Yogyakarta pascagempa 2006 mengandung banyak pelajaran berharga yang tidak ditemukan di daerah lain.
"Kenapa ini penting? Karena Yogyakarta memiliki pembelajaran yang banyak di bidang kebencanaan. Pembelajaran paling penting adalah 20 tahun gempa Yogyakarta 2006 dan sekarang sudah 2026, sehingga pengalaman beliau (Gubernur DIY) sangat dibutuhkan," katanya.
BNPB mengusung gagasan bahwa ketahanan bangsa terhadap bencana harus dimulai dari tingkat lokal. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, bukan sekadar objek yang menunggu instruksi dari pemerintah pusat.
"Selanjutnya, bersama Ngarsa Dalem (Sultan Hamengku Buwono X) kami juga membahas bagaimana mengangkat konsep sustainable resilience di mata dunia. Konsep ini sudah pernah diusung Indonesia pada 2022, saat Indonesia menjadi tuan rumah Global Platform for Disaster Risk Reduction," ujar Raditya.
Untuk memperkuat gagasan ini, BNPB menggelar seminar pendahuluan di Jogja yang fokus membahas peran lokal dalam memperkuat ketahanan masyarakat hingga tingkat nasional.
Konsep ini tidak hanya berbicara soal gempa atau gunung meletus. Raditya menjelaskan, sustainable resilience mencakup spektrum luas yang menghubungkan berbagai sektor pembangunan, mulai dari perubahan iklim, infrastruktur, hingga pembiayaan risiko.
"Kita lihat kejadian bencana saat ini juga tidak hanya karena alam saja faktornya, tetapi juga karena perubahan iklim yang berdampak pada bencana, dan bencana bisa berdampak pada pembangunan, termasuk bagi lingkungan masyarakat," katanya.
Dengan cakupan seluas itu, upaya membangun ketahanan diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri antarlembaga. Setiap sektor harus terlibat dalam satu kerangka besar yang sama.
Dalam membangun resiliensi berkelanjutan, BNPB menyiapkan lima pilar utama yang saling terkait:
Kelima pilar tersebut menjadi dasar bagi Indonesia yang tengah mempersiapkan Kerangka Nusantara untuk resiliensi berkelanjutan. Indonesia juga telah mengajukan diri sebagai tuan rumah Konferensi Dunia Pengurangan Risiko Bencana tahun 2030.
Melalui forum GFSR pada September 2026 nanti, pengalaman warga Yogyakarta bangkit dari reruntuhan gempa 20 tahun lalu akan menjadi bukti nyata bahwa ketahanan yang kuat selalu berawal dari masyarakat itu sendiri.