DI YOGYAKARTA — Keputusan penutupan tertuang dalam Surat Edaran Nomor SE 18 Tahun 2026 yang diterbitkan Balai Besar TNGGP. Langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan pendaki sekaligus mengefektifkan proses pemadaman dan pemulihan kawasan pasca-kebakaran.
Kepala Balai Besar TNGGP Saadtata Noor Adirahmanta menyebutkan, berdasarkan pemantauan lapangan, vegetasi yang terbakar didominasi rumput kering dan sebagian kecil tanaman berkayu. Titik api berada di radius sekitar lima meter dari sabana edelweiss yang mengarah ke hutan.
"Beruntung api akhirnya berhasil ditangani sehingga tidak merambat ke wilayah hutan," kata Saadtata dalam keterangan resminya, Sabtu (8/8/2026).
Untuk mencegah munculnya kembali bara api, Balai Besar TNGGP menyiagakan tim pemantau di lokasi bekas kebakaran. Petugas berjaga secara bergantian selama tiga hari ke depan, fokus mengawasi potensi titik api baru yang bisa memicu kebakaran susulan di hamparan sabana yang gersang.
"Petugas di lapangan tetap melaksanakan pemantauan dan penjagaan, secara bergantian selama tiga hari ke depan, untuk mengantisipasi potensi munculnya kembali titik api," ujar Saadtata.
Dalam surat edaran yang diteken tersebut, Balai Besar TNGGP menegaskan penutupan berlaku untuk seluruh jalur pendakian Gunung Gede dan Pangrango. Aktivitas pendakian baru akan dibuka kembali setelah masa penutupan berakhir pada 11 Agustus 2026.
"Tujuan penutupan pendakian adalah untuk menjamin keselamatan pendaki, pengunjung wisata, masyarakat, dan penggiat alam bebas serta mengefektifkan proses penanganan kebakaran," demikian bunyi surat edaran yang diterima melalui staf Humas Balai Besar TNGGP, Agus Deni.
Peristiwa ini menjadi pengingat atas kerentanan ekosistem dataran tinggi di musim kemarau. Alun-alun Suryakencana merupakan hamparan sabana luas yang menjadi ikon pendakian, dan setiap musim kering selalu menghadapi ancaman kebakaran akibat puntung rokok, api unggun liar, atau faktor alam.
Balai Besar TNGGP mengapresiasi kesigapan petugas, mitra polhut, dan masyarakat yang berperan aktif dalam penanganan kebakaran kali ini. Kerja sama tersebut dinilai krusial mengingat akses menuju titik api berada di ketinggian dan membutuhkan waktu tempuh berjam-jam dari gerbang pendakian.
Penutupan sementara ini sekaligus memberi ruang bagi tim restorasi untuk menilai kerusakan vegetasi dan menyusun langkah rehabilitasi jangka pendek. Para pendaki yang telah memiliki reservasi diimbau menghubungi kantor balai untuk penjadwalan ulang atau pengembalian tiket.