YOGYAKARTA — Organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah kini tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan. Melalui Suara Muhammadiyah, organisasi yang berdiri sejak 1915 ini melebarkan sayap bisnisnya ke sektor ritel dengan membuka Toko Oleh-Oleh 1915 di Grha Suara Muhammadiyah, Jalan Ahmad Dahlan, Yogyakarta.
Gerai tersebut diresmikan pada Selasa (11/8/2026) dan menyasar dua segmen sekaligus: wisatawan yang tergabung dalam jaringan persyarikatan serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal yang membutuhkan kanal distribusi lebih luas.
Pemilihan lokasi menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan usaha ini. Jalan Ahmad Dahlan merupakan salah satu kawasan strategis di pusat Kota Yogyakarta, dekat dengan kawasan Malioboro dan sejumlah destinasi wisata religi.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menyampaikan bahwa kehadiran toko ini merupakan langkah nyata dalam membangun ekosistem ekonomi umat.
"Hal ini tentu merupakan upaya yang bagus dalam rangka membangun ekosistem ekonomi Muhammadiyah, terutama ekonomi umat," ujar Agus dalam pernyataan yang dikutip dari laman Harianjogja.com.
Direktur Suara Muhammadiyah, Deni Asy'ari, menjelaskan bahwa sebagian besar produk yang dijual di Toko Oleh-Oleh 1915 merupakan hasil karya warga persyarikatan dan masyarakat Jogja. Inisiatif ini lahir dari kebutuhan wisatawan yang kerap mencari pusat oleh-oleh dengan produk lokal yang lengkap dan terkurasi.
"Harapan kami bisa menciptakan ekosistem bisnis, tidak sekadar berusaha mencari profit dan benefit, tapi juga ada keberpihakan mendorong produk-produk UMKM warga persyarikatan. Selain itu warga persyarikatan Muhammadiyah kalau ke Jogja bisa membeli oleh-oleh di sini," ungkap Deni.
Pengembangan Toko Oleh-Oleh 1915 tidak berhenti pada sektor ritel. Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Ekonomi Kreatif (LPEK) PP Muhammadiyah, Tetra Budiarto, menyatakan pihaknya siap berkolaborasi dengan jaringan wisata Muhammadiyah untuk mendatangkan pengunjung.
"Besar harapan kami dengan tempat yang strategis dan komplit ini wisatawan dapat terus berdatangan dan nyaman dalam berbelanja," katanya.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menghubungkan tiga sektor sekaligus: ekonomi kreatif, UMKM, dan pariwisata. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari kehadiran toko ini bisa dirasakan lebih luas, bukan hanya oleh pengelola tetapi juga oleh para pelaku usaha kecil di sekitar Yogyakarta.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari transformasi Suara Muhammadiyah yang awalnya dikenal sebagai media kepenulisan sejak 1915. Kini lembaga tersebut telah mengembangkan sayap bisnis ke berbagai sektor, termasuk pariwisata, hotel syariah, hingga rumah makan.
Agus Taufiqurrahman menilai perkembangan ini menunjukkan dinamika organisasi dalam merespons kebutuhan masyarakat. Pengembangan lini usaha yang beragam dinilai dapat memperkuat kemandirian ekonomi organisasi sekaligus membuka ruang partisipasi bagi masyarakat untuk mengembangkan produknya.
Dengan menggabungkan kebutuhan wisatawan dan potensi produk lokal, Toko Oleh-Oleh 1915 diharapkan menjadi salah satu titik pemasaran produk UMKM sekaligus bagian dari pengembangan ekosistem ekonomi Muhammadiyah di Yogyakarta.