Pencarian

9 Rekor MURI Dipecahkan Gunungkidul sejak 2007, dari 55 Olahan Ketela hingga Senam Penthul Tembem

Sabtu, 11 Juli 2026 • 16:29:01 WIB
9 Rekor MURI Dipecahkan Gunungkidul sejak 2007, dari 55 Olahan Ketela hingga Senam Penthul Tembem
Gunungkidul memecahkan sembilan rekor MURI sejak 2007 dengan berbagai inovasi lokal.

GUNUNGKIDUL — Senior Representative MURI Ari Andriani menyebut Gunungkidul menjadi salah satu kabupaten di DIY yang paling konsisten menorehkan rekor nasional. "Gunungkidul telah memecahkan sembilan rekor dan yang pertama kali pada tahun 2007," kata Ari di Gunungkidul, Jumat.

Rekor Pertama: 55 Olahan dari Ketela Pohon

Rekor pertama yang dicatatkan pada 2007 adalah penyajian 55 jenis makanan dan minuman berbahan dasar ketela pohon. Inisiatif ini diprakarsai oleh komunitas masyarakat setempat. "Kalau tidak salah ada 55 macam makanan dan memang ada satu komunitas yang memprakarsai itu," ujar Ari.

Pada tahun yang sama, Gunungkidul juga memecahkan rekor kedua: pembuatan tampah terbesar berdiameter delapan meter. Tampah raksasa itu dibuat menggunakan 227 batang bambu dan dikerjakan selama 20 hari.

Bak Penampung Air Hujan Terbuka Hasil Gotong Royong

Rekor lain yang membedakan Gunungkidul adalah pembangunan 1.062 unit bak penampungan air hujan secara gotong royong. Proyek ini menjadi solusi warga di kawasan rawan kekeringan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. "Kemudian ada pembangunan penampungan air hujan terbanyak dengan cara gotong royong," kata Ari.

Enam Rekor Lain: dari Campursari hingga Busana di Hutan

Enam rekor lainnya mencakup sajian bakmi Jawa terbanyak, pagelaran campursari terlama, membatik lintas generasi, peragaan busana di kawasan hutan, nasi kenduri dalam sarang, dan yang terbaru Senam Kreasi Penthul Tembem dengan peserta perempuan terbanyak.

Untuk rekor senam terbaru, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah berkonsultasi dengan MURI sejak awal Mei 2026. MURI menetapkan syarat minimal 1.000 peserta perempuan, namun Pemkab menyanggupi menghadirkan 1.500 peserta. "Kami syaratkan minimal 1.000 peserta, tetapi mereka menyanggupi menghadirkan 1.500 peserta perempuan," ungkap Ari.

Konsisten Meski Tidak Setiap Tahun

Ari menambahkan, meskipun pencapaian rekor tidak terjadi setiap tahun, Gunungkidul tetap menjadi daerah yang inovatif. "Ada sembilan rekor, jeda waktunya memang cukup lama, tetapi tentu itu menjadi kebijakan masing-masing pemerintah daerah," katanya. Rekor-rekor ini mencakup aspek makanan khas, budaya, hingga kearifan lokal yang menjadi ciri khas Kabupaten Gunungkidul.

Follow www.jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks