Pencarian

Noor Wa, Pendiri Teater Jeprik Yogyakarta, Dikenang Kolega Sebagai Seniman Idealis yang Sarat Misteri

Sabtu, 11 Juli 2026 • 18:14:35 WIB
Noor Wa, Pendiri Teater Jeprik Yogyakarta, Dikenang Kolega Sebagai Seniman Idealis yang Sarat Misteri
Noor Wa, pendiri Teater Jeprik, dikenang sebagai seniman idealis dan mentor tanpa pamrih.

YOGYAKARTA — Nama Noor Wa mungkin tidak seterang aktor panggung yang ia lahirkan. Namun, bagi mereka yang pernah bergelut di bawah ajarannya, ia adalah fondasi. "Dia itu seniman murni. Tidak pernah kompromi dengan pasar. Tapi justru dari keteguhannya itu, banyak muridnya yang jadi besar," ujar seorang kolega yang enggan disebutkan namanya, menggambarkan karakter pria yang akrab disapa Kang Noor itu.

Misteri di Balik Idealisme Seorang Pendiri Teater

Yang membuat Noor Wa menarik, menurut kalangan seniman kampus di Yogyakarta, adalah sisi personalnya yang tertutup. Meski aktif melahirkan karya sejak era 1970-an, ia jarang tampil di forum-forum publik. "Dia lebih suka bekerja di balik layar. Banyak orang tahu Teater Jeprik, tapi tidak banyak yang tahu siapa dalang di baliknya," tambah sumber yang sama.

Teater Jeprik sendiri dikenal sebagai laboratorium kreatif yang tidak hanya mengajarkan akting. Di sana, para anggota dididik untuk memahami sastra, filsafat, hingga gerak tubuh secara disiplin. Noor Wa, dengan pendekatan "keras tapi penuh makna", menjadi simbol perlawanan terhadap komersialisasi seni yang mulai deras sejak era 1990-an.

Warisan yang Tersembunyi: Melahirkan Seniman Tanpa Pamrih

Pengaruh Noor Wa tidak terukur dari jumlah panggung yang ia naiki, melainkan dari jejak murid-muridnya. Beberapa nama yang kini eksis di teater dan film nasional mengakui pernah berguru padanya secara informal. "Dia tidak pernah memungut biaya. Yang penting niat, mau belajar, dan siap hidup susah demi seni," kenang seorang sutradara muda yang sempat mondok di sanggarnya.

Kolega lain menyebut bahwa Noor Wa kerap memberikan kritik pedas pada pertunjukan yang dianggapnya "garing" atau tidak memiliki riset. Sikap keras ini, meski kadang menyakitkan, justru dianggap sebagai bentuk kecintaannya pada teater. "Dia bilang, 'Kalau main teater cuma untuk cari tepuk tangan, mending jadi badut di pasar,'" ujar sumber, menirukan gaya bicara khas Noor Wa.

Mengapa Sosoknya Kini Relevan Diingat Kembali?

Di tengah maraknya pertunjukan teater instan yang mengutamakan viralitas, figur seperti Noor Wa menjadi antitesis. Ia mengajarkan bahwa seni adalah proses panjang yang membutuhkan pengorbanan. "Jogja kehilangan seorang guru yang tidak pernah menulis buku, tapi ajarannya hidup di setiap gerak aktor yang pernah ia sentuh," pungkas seorang pegiat teater kampus di Yogyakarta.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada rencana resmi dari komunitas teater Yogyakarta untuk menggelar acara peringatan khusus. Namun, di grup-grup percakapan seniman, namanya kembali disebut—bukan sebagai sosok yang mati, melainkan sebagai misteri yang terus hidup dalam setiap karya yang ia wariskan.

Follow www.jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: radarjogja.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks