JAKARTA — Sembilan negara dilibatkan dalam program Indonesia Youth Summit (IYS) untuk mentransfer praktik terbaik pembangunan kepemudaan kepada generasi muda Indonesia. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyebut kerja sama ini mencakup Amerika, China, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, Saudi Arabia, dan beberapa negara lainnya.
Program yang mempertemukan mahasiswa, pelajar, aktivis, wirausahawan muda, dan profesional muda ini bertujuan utama meningkatkan kapasitas kepemimpinan. IYS dirancang sebagai forum diskusi, kolaborasi, dan perancangan solusi atas isu-isu sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan, serta pembangunan nasional.
Benchmarking Global untuk Pemuda Indonesia
Erick menjelaskan bahwa kerja sama dengan negara-negara yang sudah unggul dalam pembangunan kepemudaan diperlukan agar Indonesia bisa melakukan perbandingan. "Insyaallah, saya juga sudah mengontak UN (United Nations), nanti kita minta juga benchmarking secara global mengenai kepemudaan kita, bagaimana posisi kita untuk memperbaharui, berinvestasi, untuk masa depan kepemudaan kita," kata Erick kepada awak media di Jakarta, Senin.
Menurut Erick, program ini menjadi fondasi untuk membuka peta jalan kepemudaan dalam konteks 100 tahun Sumpah Pemuda dan keberlanjutannya. Tanpa persiapan yang matang, generasi muda Indonesia akan kalah bersaing dengan bangsa lain.
Mengapa Sembilan Negara Dipilih?
Pemilihan sembilan negara tersebut didasarkan pada keunggulan masing-masing dalam pengembangan pemuda. Erick mencontohkan bahwa setiap negara mitra memiliki praktik terbaik yang bisa dipelajari dan diterapkan di Indonesia.
"Apabila generasi muda tidak dipersiapkan, maka akan kalah bersaing dengan bangsa-bangsa lain sehingga bisa menjadi stigma yang akan juga menurunkan persaingan Indonesia sebagai bangsa," tegas Erick.
Target Peserta dan Dampak Program
IYS menyasar berbagai kalangan muda, mulai dari mahasiswa, pelajar, aktivis, hingga wirausahawan muda dan profesional muda. Program ini diharapkan menjadi wadah bagi pemuda dari berbagai daerah untuk berdiskusi dan merancang solusi atas isu-isu strategis nasional.
Erick menekankan bahwa program ini sangat penting untuk membuka jalan bagi generasi muda sebagai calon pimpinan masa depan bangsa. Dengan bekal praktik terbaik dari sembilan negara, pemuda Indonesia diharapkan mampu bersaing di tingkat global.