Upaya ini bukan tanpa alasan. Subandi menyaksikan sendiri bagaimana jumlah perajin wayang kulit di kampung halamannya menyusut drastis dari 340 orang pada era 1990-an menjadi hanya sekitar 30 orang saat ini. Krisis moneter 1998, gempa bumi 2006, dan pandemi disebut sebagai pukulan bertubi-tubi yang membuat banyak perajin gulung tikar.
Anak-Anak Jadi Sasaran Regenerasi Perajin Wayang
Subandi memilih anak-anak sebagai target utama regenerasi. Mereka datang ke rumahnya setiap hari Sabtu untuk belajar dua keterampilan inti: menatah (memahat pola) dan menyungging (mewarnai) wayang kulit.
"Biar mereka semangat saya kasih insentif, pakai uang pribadi. Jadi kalau ada wayang dan lukisan saya yang laku uangnya saya sisihkan untuk memberi uang saku," kata Subandi, Selasa (14/7/2026).
Dana insentif ini murni dari hasil penjualan karyanya. Satu tokoh pewayangan seperti Arjuna ia banderol Rp 1,5 juta, sementara lukisan wayang bisa mencapai Rp 7,5 juta per buah.
Mengapa Perajin Wayang di Gendeng Terus Berkurang?
Lurah Bangunjiwo, Parja, membenarkan bahwa Gendeng tengah mengalami krisis regenerasi. Dulu, hampir seluruh warga di padukuhan ini adalah perajin tatah sungging. Kini, yang tersisa dan masih setia menekuni profesi itu hanya sekitar 10 orang.
Subandi mengaku sudah melakukan upaya pelestarian ini sejak ia masih lajang. "Saya sejak kecil sudah bisa cari duit. Jadi walaupun saya tidak kaya tapi saya bisa cari duit, dan duitnya sebagian buat pelestarian tatah sungging wayang kulit," ujarnya.
Kulit Kambing untuk Workshop Luar Negeri, Kulit Kerbau untuk Lokal
Dalam proses produksi, Subandi menggunakan kulit kerbau sebagai bahan baku utama. Namun, untuk workshop bersama peserta dari luar negeri, ia beralih ke kulit kambing.
"Kalau dia saya kasih kulit yang kerbau itu nanti akan patah tatahannya," jelas Subandi. Proses pembuatan satu wayang kulit memakan waktu sekitar satu pekan.
Pelatihan yang digelar Subandi tidak terbatas pada anak-anak Bangunjiwo. Masyarakat umum juga dipersilakan ikut serta. "Harapannya nanti anak-anak kita ini ada yang berminat menekuni tatah sungging wayang dan membuka peluang untuk masa depan," pungkas Parja.