BANTUL — Gelombang panen raya yang melanda sejumlah sentra produksi nasional membuat harga bawang merah di tingkat petani Bantul ambruk. Saat ini, bawang merah hanya dihargai Rp 15.000 per kilogram oleh pedagang penebas, jauh di bawah harga panen sebelumnya yang mencapai Rp 25.000 per kilogram.
Penurunan ini terjadi di tengah membaiknya produktivitas lahan pasir. Petani mengaku hasil panen cukup memuaskan, tetapi pasar sedang tidak berpihak karena pasokan berlebih membanjiri sejumlah daerah.
Pasokan Melimpah dari Jawa Tengah, Jatim, hingga Sulawesi
Andika Nur Cholis, petani bawang merah lahan pasir Pansela Bantul, mengatakan panen raya di wilayahnya mulai berlangsung sekitar sepekan terakhir. Kondisi ini berbarengan dengan masa panen di berbagai daerah sentra produksi lain.
"Bawang merah dari Jawa Tengah, Jawa Timur hingga sejumlah daerah di Sulawesi saat ini juga sedang memasuki masa panen. Stok di pasar meningkat signifikan," ujarnya saat dihubungi pada Jumat (31/7/2026).
Menurut Andika, hukum pasar pun berlaku. Pasokan yang melimpah membuat harga di tingkat petani tak mampu bertahan dan terus tertekan.
Elektrifikasi Irigasi Jadi Penyelamat Margin Petani
Meski harga jual rendah, Andika menyebut petani masih bisa bertahan berkat efisiensi biaya produksi. Penggunaan sistem elektrifikasi untuk irigasi lahan pasir disebut mampu memangkas biaya operasional yang sebelumnya cukup besar.
"Elektrifikasi untuk penyiraman bawang merah menekan biaya yang tinggi untuk irigasi," katanya.
Dengan efisiensi ini, petani tidak mengalami kerugian besar meski keuntungan yang diperoleh sangat terbatas. Dalam beberapa kasus, pendapatan hanya cukup untuk menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan.
Puncak Panen Raya Diprediksi Capai Pertengahan Agustus
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo, membenarkan harga bawang merah yang diterima petani saat ini berada di kisaran Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kilogram. Ia menyebut anjloknya harga bukan hanya terjadi di Bantul, melainkan imbas dari kondisi pasar nasional.
"Kondisi ini dipicu karena berbarengan dengan panen raya petani bawang merah di Jawa Tengah, Jawa Timur bahkan daerah Sulawesi juga sedang panen raya bawang merah hingga harga bawang merah merosot tajam," jelas Joko.
Puncak panen raya di Bantul sendiri diperkirakan baru akan terjadi pada pertengahan Agustus 2026. Sebagian petani di kawasan lahan pasir memang telah memulai panen lebih awal, namun volume terbesar diprediksi akan masuk pasar dalam beberapa pekan ke depan.
Pemerintah berharap produktivitas yang baik serta efisiensi biaya produksi dapat membantu petani bertahan. Petani pun berharap harga bawang merah berangsur pulih setelah pasokan dari berbagai daerah mulai berkurang.