Pencarian

Dispar DIY Nilai Karya Seniman Neurodivergen di Pameran Jejak Warna Bagian dari Ekonomi Kreatif

Senin, 03 Agustus 2026 • 20:06:01 WIB
Dispar DIY Nilai Karya Seniman Neurodivergen di Pameran Jejak Warna Bagian dari Ekonomi Kreatif
Pengunjung mengamati karya lukis dalam pameran "Jejak Warna" di GIK UGM, Yogyakarta, 2-8 Agustus 2026.

YOGYAKARTA — Sebanyak 46 karya lukis dari 32 seniman neurodivergen dipamerkan dalam gelaran "Jejak Warna" di GIK UGM, Yogyakarta, pada 2-8 Agustus 2026. Pameran ini tidak sekadar ruang ekspresi, tetapi juga menjadi penanda bahwa karya kelompok tersebut diakui sebagai bagian dari denyut ekonomi kreatif di DI Yogyakarta.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY, Iwan Pramana, menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif di wilayahnya berlandaskan prinsip inklusivitas. Setiap individu, termasuk penyandang autisme, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan mengembangkan potensi.

"Jadi hasil karya yang hari ini ditampilkan ini merupakan bagian dari subsektor ekonomi kreatif," kata Iwan Pramana saat menghadiri pembukaan pameran, Minggu.

Kolaborasi Lintas Subsektor untuk Seniman Neurodivergen

Iwan menyebut potensi seniman neurodivergen tidak berhenti pada seni rupa. Peluang pengembangan justru terbuka di subsektor lain seperti seni pertunjukan dan musik, seiring terbukanya ruang kolaborasi dalam berbagai kegiatan kreatif di DIY.

"Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Creative for Autism (C4A) maupun Pesona Autistik Indonesia (PAI) agar seniman neurodivergen dapat dilibatkan dalam berbagai pameran dan kegiatan ekonomi kreatif yang diselenggarakan pemerintah daerah bisa menghadirkan adik-adik ini di kegiatan kami," ujarnya.

Mengubah Cara Pandang dari Ketidakmampuan Menjadi Perbedaan Kemampuan

Ketua panitia Adriana menjelaskan bahwa neurodiversitas adalah konsep yang menekankan keberagaman cara kerja otak manusia. Individu neurodivergen memiliki cara berpikir, berkomunikasi, dan memproses informasi yang berbeda dari kebanyakan orang.

"Pesan di balik neurodiversitas bukan berfokus pada ketidakmampuan, tetapi pada perbedaan kemampuan," kata Adriana.

Melalui pameran ini, ia berharap pemahaman masyarakat mengenai neurodiversitas semakin luas. Pada saat yang sama, kesempatan bagi individu neurodivergen untuk berpartisipasi dalam dunia seni dan kehidupan bermasyarakat juga semakin terbuka lebar.

Semangat Orang Tua: Karya Terjual Menjadi Energi Baru

Di tengah pameran, kisah Dezy Lyzawaty, orang tua seniman peserta asal Mojokerto, menjadi cermin dampak nyata ruang kreatif ini. Ia mengaku keikutsertaan anaknya dalam pameran menjadi penyemangat besar bagi keluarganya untuk terus mendukung proses berkarya.

Dezy menuturkan, karya pertama anaknya yang dipamerkan pada kegiatan serupa tahun lalu berhasil terjual. Pengalaman itu, menurutnya, semakin memotivasi keluarga untuk terus mengembangkan potensi yang dimiliki sang anak.

"Saya pulang membawa semangat dan energi untuk terus berjuang buat Dani," katanya.

Ia berharap semakin banyak orang tua anak neurodivergen memperoleh semangat serupa untuk terus mendampingi putra-putrinya mengembangkan bakat melalui ruang-ruang kreatif seperti pameran ini. Selain pameran lukisan, kegiatan "Jejak Warna" juga diisi dengan bazar karya, talkshow, dan layanan konseling bagi keluarga dengan anak neurodivergen.

Follow www.jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks