YOGYAKARTA — Di tengah laju perubahan teknologi yang masif, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Gusti Ratu Kanjeng (GKR) Hemas, menyebut budaya lokal Yogyakarta adalah modal sosial paling kuat untuk menahan degradasi moral pelajar. Hal itu ia sampaikan di hadapan para pendidik dan alumni pada Musyawarah Nasional dalam rangka Lustrum XIII 65 Tahun SMP Negeri 1 Piyungan, Sabtu.
Menurut senator asal DIY tersebut, kemajuan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan tidak boleh membuat nilai-nilai luhur tergerus zaman. Justru sebaliknya, budaya menjadi filter sekaligus fondasi untuk menjawab tantangan masa depan.
"Di DIY memiliki kekuatan yang luar biasa, yaitu budaya. Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi menjadi sumber nilai yang membentuk karakter generasi muda," kata Hemas.
Nilai Luhur yang Harus Ditanamkan di Sekolah
Hemas menyebutkan sejumlah falsafah hidup yang relevan untuk diinternalisasi dalam proses belajar mengajar. Nilai-nilai ini dinilai tidak lekang oleh waktu dan mampu membentuk pribadi yang tangguh secara sosial.
- Hamemayu Hayuning Bawana — filosofi menjaga dan memperindah dunia sebagai wujud tanggung jawab moral.
- Tepa selira — sikap toleransi dan tenggang rasa antar sesama.
- Gotong royong — kolaborasi dan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah.
- Penghormatan kepada sesama — etika sosial yang memperkuat kohesi masyarakat.
"Karena itu saya meyakini bahwa pendidikan berbasis budaya yang diterapkan di Yogyakarta bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan menjadikan budaya sebagai fondasi untuk menjawab tantangan masa depan. Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kematangan karakter," ujarnya.
Tekanan Global pada Mutu Pembelajaran
Hemas mengingatkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tekanan besar. Revolusi teknologi, AI, dan perubahan sosial yang dinamis menuntut adaptasi cepat, namun tetap berpijak pada nilai.
"Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik. Tetapi juga harus mampu membentuk manusia yang memiliki karakter, berintegritas, empati, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya dan Tanah Air," kata Hemas.
Ia juga menyoroti data Rapor Pendidikan tahun 2025 dari Kemendikdasmen. Peningkatan mutu pembelajaran, penguatan literasi dan numerasi, serta pemerataan kualitas layanan pendidikan masih menjadi agenda prioritas nasional. Hasil PISA pun terus mengingatkan bahwa kualitas pembelajaran Indonesia masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing di level global.
Peran Alumni dalam Transformasi Pendidikan
Lebih lanjut, Hemas menekankan bahwa transformasi pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan guru dan pemerintah. Peran alumni menjadi elemen penting dalam mewujudkan cita-cita besar tersebut.
"Peningkatan kemampuan literasi dan pemerataan kualitas guru, serta penguasaan keterampilan perlu menjadi perhatian. Tentu bagi lembaga pendidikan, peran alumni menjadi penting dalam mewujudkan cita-cita ini," pungkasnya.