BANTUL — Skema penyaluran bantuan sosial kali ini sengaja tidak diberikan dalam bentuk uang tunai. Mekanisme ini dipilih agar dampak yang dirasakan tidak hanya menyentuh keluarga miskin, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat di tingkat lokal.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bantul Sukrisna Dwi Susanta menuturkan, paket bantuan yang disalurkan telah disusun untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga penerima manfaat. Komoditas yang diberikan tidak hanya berupa bahan pangan pokok, tetapi juga memperhatikan keseimbangan asupan nutrisi.
“Jadi ada beras sebagai karbohidrat, proteinnya bisa dari daging sapi atau ikan, kemudian ada buah-buahan, sayuran, dan yang terakhir susu. Jadi gizinya itu komplet,” katanya, Minggu (2/8).
Komposisi Paket dan Target Penyaluran
Melalui komposisi tersebut, Pemkab Bantul berharap bantuan yang diterima masyarakat tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas gizi keluarga, khususnya kelompok rentan.
Meski menyasar seribu keluarga, pelaksanaan Sapa Bantul tahun ini belum dapat berlangsung sepanjang tahun. Sukrisna mengatakan keterbatasan anggaran membuat pemerintah hanya mampu menyalurkan bantuan selama enam bulan.
“Karena ada keterbatasan anggaran, kami hanya mampu menyalurkan bantuan ini selama enam bulan,” ucapnya.
Mekanisme Barcode untuk Tepat Sasaran
Untuk mendukung penyaluran bantuan, Dinsos Bantul menerapkan mekanisme virtual account (VA). Kepala Seksi Pengelolaan Bantuan Sosial dan Penanganan Korban Bencana Dinsos Bantul Jazim Ahmadi menjelaskan setiap keluarga penerima memperoleh barcode VA yang dicetak setiap bulan berdasarkan Surat Keputusan Bupati dan Surat Keputusan Kepala Dinas Sosial.
“VA kami cetak per bulan berdasarkan SK Bupati dan SK Kepala Dinsos. Setelah dicetak, nanti pendamping mengambil dan langsung membagikannya ke masing-masing KPM,” kata Jazim.
Barcode tersebut kemudian ditukarkan dengan paket sembako di warung pangan warga yang telah ditunjuk. Menurut Jazim, mekanisme ini diterapkan agar bantuan tepat sasaran sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil di sekitar penerima manfaat.
“Jadi nanti kode batang VA itu ditukarkan dengan sembako di warung pangan warga. Dan untuk warungnya sendiri sudah kami tunjuk,” ujarnya.
Dampak Ganda bagi Perekonomian Lokal
Melalui skema tersebut, program Sapa Bantul tidak hanya diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga miskin, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Warung pangan warga memperoleh tambahan transaksi dari penyaluran bantuan, sedangkan keluarga penerima dapat memperoleh bahan pangan bergizi sesuai kebutuhan yang telah ditentukan pemerintah.
Pemkab Bantul berharap program ini mampu menjaga daya beli masyarakat kurang mampu sekaligus memastikan kebutuhan pangan bergizi tetap dapat diakses di tengah berbagai tantangan ekonomi.