YOGYAKARTA — Dari 45 kelurahan di Kota Yogyakarta, baru 10 koperasi Merah Putih yang berjalan aktif. Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menilai keberhasilan itu bergantung pada kesamaan cara pandang pengurus dalam menggerakkan roda organisasi.
“Kota Yogyakarta nggak punya sumber daya alam, sehingga yang paling pas bagi koperasi (KKMP) adalah agregator,” kata Wawan di Yogyakarta, Sabtu.
Pasokan Beras dari Bantul dan Sleman Bisa Masuk ke KKMP
Peran agregator ini membuka peluang kerja sama antarwilayah. Produk dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kabupaten tetangga, seperti Bantul dan Sleman, bisa dipasarkan melalui jaringan koperasi di Kota Yogyakarta.
“Konkretnya, misalnya dari KDMP Kabupaten Bantul atau Sleman, kalau berasnya bagus, bisa dipasarkan juga ke koperasi (KKMP) di Kota Yogyakarta. Jadi, bisa sinergi dan dikolaborasikan, Yogyakarta tinggal ngambil pasokan produk dari kabupaten,” ujarnya.
Pasar Lokal Kelurahan Jadi Sasaran Utama
Wawan menilai pasar produk KKMP sebenarnya sudah tersedia di depan mata, yakni kebutuhan pokok warga di lingkungan kelurahan masing-masing. Persoalannya tinggal bagaimana koperasi mendapatkan suplai dengan harga yang lebih murah agar mampu bersaing.
Salah satu cara yang diusulkan adalah mengambil bahan kebutuhan pokok langsung dari Bulog. Namun, Wawan menekankan perlunya ada privilege khusus bagi KKMP dibandingkan pembeli lain agar skema ini lebih menarik secara ekonomi.
Konsep Gandeng Gendong: Kadin Diminta Mengasuh KKMP
Untuk memaksimalkan kinerja koperasi, Pemkot Yogyakarta mengusulkan konsep gandeng gendong. Lewat skema ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) diharapkan siap menjadi mitra yang mengampu atau mengasuh KKMP yang ada di kota.
“Mungkin solusi konsepnya adalah gandeng gendong atau penitip plasma. Misalnya Kadin bisa mengampu membuat koperasi bersama dengan KKMP yang ada di kota. Kadin DIY juga bikin suatu koperasi bersama, terus kerja sama dengan koperasi-koperasi yang ada,” katanya.
Kolaborasi dengan Kadin dinilai penting untuk memperluas akses pasar dan memperkuat modal usaha koperasi kelurahan. Dengan begitu, KKMP tidak hanya menjadi unit simpan pinjam, tetapi juga motor penggerak ekonomi warga di tingkat kelurahan.