DI YOGYAKARTA — Penulis di balik semesta Cosmere itu tidak main-main dengan opininya. Dalam segmen tier list bertema "overlord" paling ikonik di podcast-nya, Sanderson tiba-tiba melontarkan pujian setinggi langit untuk film yang dibintangi Emile Hirsch tersebut. "Film Speed Racer itu unironically 10 dari 10. Ini adalah Wachowskis di performa terbaik mereka, dan film ini kurang dihargai saat pertama kali rilis," ujarnya tegas, seperti dikutip IGN.
Skor Kontroversial vs Pujian Kritis
Pernyataan Sanderson bertolak belakang dengan agregator ulasan mainstream. Speed Racer hanya mengantongi skor 42% di Rotten Tomatoes dan 6.1 dari 10 di IMDB. Namun, satu suara sejak awal sejalan dengan Sanderson: IGN. Dalam review yang ditulis Todd Gilchrist pada 2008, film ini justru mendapat skor nyaris sempurna, 9 dari 10.
Gilchrist menulis, "Secara keseluruhan, adaptasi anime ini bukan sekadar film terbaik yang bisa dibuat, tapi persis seperti apa yang seharusnya: penuh dengan balapan yang seru dan dirancang dengan brilian, karakterisasi warna primer, dan keseruan yang tak tertahankan." Ia bahkan menyebut film ini sebagai "mahakarya dari jenisnya" dan momen di mana Wachowskis bertransformasi dari sutradara muda berbakat menjadi auteur sejati.
Mengapa Film Ini Gagal di Box Office?
Sanderson juga membedah kegagalan komersial film yang hanya meraup USD 94 juta di box office global ini. Menurutnya, kesederhanaan film justru menjadi bumerang. "Alasan film ini kurang sukses, saya pikir, karena terlalu berlebihan dan terlalu sederhana. Ini bukan sistem moral yang rumit. Ini kartun yang dibuat dalam aksi nyata—tapi hasilnya fantastis," jelasnya.
Pendapat ini masuk akal. Di tengah era film superhero yang gelap dan sinis, Speed Racer justru tampil polos, penuh warna, dan sangat setia pada sumber materialnya yang merupakan anime Jepang tahun 60-an. Visualnya yang menggunakan efek CGI ekstrem dan transisi ala anime mungkin terlalu "aneh" bagi penonton mainstream kala itu.
Kebangkitan di Era Media Fisik
Meski sempat terpuruk, film ini justru mendapatkan kehidupan baru di era modern. Rilisan ulang edisi terbatas dalam bentuk Steelbook 4K dan Blu-ray pada awal tahun ini langsung ludes terjual. Antusiasme ini juga diiringi dengan pemutaran ulang di sejumlah bioskop, membuktikan bahwa film ini memiliki basis penggemar kultus yang loyal dan terus bertambah.
Bagi kamu yang penasaran dan ingin menilai sendiri, film ini masih bisa didapatkan dalam format 4K seharga USD 24.99 (sekitar Rp 400 ribu) di Amazon. Jadi, apakah kamu setuju dengan penilaian Brandon Sanderson bahwa Speed Racer adalah mahakarya yang terlambat diakui, atau justru menganggap skor rendah Rotten Tomatoes sudah tepat? Satu hal yang pasti, film ini menawarkan sensasi visual yang tidak akan kamu temukan di film balap lainnya, baik itu Fast & Furious maupun Gran Turismo.