BANTUL — Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Piyungan tidak hanya menjawab persoalan darurat sampah di kawasan Kartamantul, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi baru. Investasi senilai Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun itu diproyeksikan membuka lapangan kerja langsung bagi warga sekitar selama pembangunan infrastruktur berlangsung.
Director of Investment Danantara Investment Management sekaligus CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (DENERA), Fadli Rahman, menegaskan prioritas perekrutan akan diberikan kepada warga lokal. "Dari sisi ketenagakerjaan, proyek PSEL Piyungan diperkirakan membutuhkan sekitar 800 sampai 1.000 tenaga kerja selama masa konstruksi. Tenaga kerja lokal akan menjadi prioritas," ujarnya usai penandatanganan perjanjian proyek di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Selasa (11/8/2026).
Lahan 5,7 Hektare dan Kapasitas 1.000 Ton Sampah per Hari
Fasilitas ini akan berdiri di atas lahan seluas 5,7 hektare di dekat TPA Piyungan. Setelah groundbreaking yang dijadwalkan pada Desember 2026, pabrik ditargetkan beroperasi penuh pada kuartal III atau IV 2028.
Dengan kapasitas olah hingga 1.000 ton sampah per hari, PSEL Piyungan akan menghasilkan daya listrik 18–20 megawatt (MW). Angka tersebut setara dengan kebutuhan listrik sekitar 15.000 rumah di kawasan Jogja. Listrik yang dihasilkan akan dibeli PT PLN (Persero) dengan harga 20 sen per kWh berdasarkan skema Perpres Nomor 109 Tahun 2025, dengan durasi kerja sama hingga 30 tahun.
Abu Pembakaran Jadi Peluang Usaha Baru bagi Pengusaha Daerah
Dampak ekonomi turunan diproyeksikan mengalir ke pelaku usaha setempat. Produk sampingan berupa abu pembakaran disebut Fadli berpotensi dikerjasamakan dengan pengusaha daerah untuk dimanfaatkan kembali. Selain itu, kontribusi terhadap pendapatan asli daerah juga diharapkan masuk melalui sektor pajak.
"Pembayaran listrik akan dilakukan langsung oleh PLN, sementara pemerintah daerah hanya perlu mengeluarkan biaya untuk memasok sampah," jelas Fadli.
Sampah Tak Perlu Dipilah, Air Lindi Diolah Jadi Air Bersih
Teknologi yang digunakan tidak mewajibkan sampah dipilah terlebih dahulu. Sampah yang tiba akan ditampung di bunker kedap udara untuk menekan bau, lalu dikeringkan selama lima hari sebelum dijadikan bahan bakar memutar turbin listrik.
Standar lingkungan yang diterapkan disebut setara dengan standar Eropa. Air lindi hasil proses akan diolah kembali menjadi air bersih, sementara abu sisa pembakaran disaring ketat sehingga emisi yang keluar ke udara berupa uap air bersih.
Tiga Daerah Kartamantul dan Pertamina dalam Satu KSO
Proyek ini melibatkan tiga wilayah aglomerasi Kartamantul—Kota Jogja, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul—bersama Gubernur DIY. Pengelolaannya dilakukan melalui Kerja Sama Operasi (KSO) antara Danantara dengan porsi 51% dan Pertamina sebagai mitra.
Keterlibatan lintas daerah ini menjadi kunci kelancaran pasokan sampah harian dari tiga wilayah penyangga kota. Dengan skema tersebut, proyek diharapkan menjadi solusi permanen atas penutupan TPA Piyungan yang sempat memicu krisis sampah di awal 2026.