Pencarian

IHSG Melemah ke 6.340, Pelaku Pasar Cermati Tinjauan MSCI dan Sinyal The Fed

Kamis, 13 Agustus 2026 • 11:20:01 WIB
IHSG Melemah ke 6.340, Pelaku Pasar Cermati Tinjauan MSCI dan Sinyal The Fed
IHSG melemah ke posisi 6.340,39 pada perdagangan Kamis pagi setelah sempat dibuka di zona hijau.
6.340,39 pada Kamis pagi. Pelemahan terjadi di tengah respons jangka pendek pelaku pasar atas tinjauan MSCI periode Agustus 2026. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pergerakan ini masih wajar selama indeks bertahan di atas support 6.308. ISI:

JAKARTA — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah pada perdagangan Kamis pagi setelah sempat dibuka di zona hijau. Data RTI mencatat indeks turun ke posisi 6.340,39 pada pukul 09.15 WIB. Indeks LQ45 yang mewakili 45 saham unggulan ikut terkoreksi 0,63 persen ke level 629,84.

Koreksi ini terjadi saat pelaku pasar mencerna ulang komposisi saham Indonesia dalam tinjauan indeks MSCI. Pada review Agustus 2026, MSCI mengeluarkan dua saham dari MSCI Global Standard Indexes, dan satu di antaranya diturunkan ke kategori MSCI Global Small Cap Index. Selain itu, sembilan saham Indonesia juga dikeluarkan dari indeks small cap, menyisakan 33 saham yang bertahan di daftar tersebut.

Mengapa Pasar Masih Waspadai Data Inflasi AS?

Dari mancanegara, sentimen sebenarnya cenderung positif setelah data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juli 2026 sesuai ekspektasi. Inflasi inti AS turun menjadi 2,5 persen secara tahunan. Hal ini memperkuat probabilitas The Fed menahan suku bunga pada September mendatang hingga 62 persen.

Kendati demikian, Liza mengingatkan potensi kenaikan inflasi pada Agustus akibat lonjakan harga minyak masih membayangi. "Namun, pasar tetap mewaspadai potensi kenaikan inflasi pada Agustus akibat lonjakan harga minyak," ujarnya dalam kajian yang diterima di Jakarta, Kamis.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data Producer Price Index (PPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Kedua indikator ini menjadi preferensi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Utang Pemerintah Tumbuh 21,5 Persen, Rasio Bunga Membengkak

Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada fundamental fiskal. Utang pemerintah tercatat mencapai Rp10.293,69 triliun hingga Juni 2026, atau setara 41,26 persen terhadap PDB. Angka ini tumbuh Rp1.819,79 triliun atau 21,5 persen sejak akhir September 2024.

Liza menyoroti rasio pembayaran bunga utang terhadap penerimaan fiskal yang meningkat menjadi 19 persen, dari sebelumnya 14,6 persen pada 2022. "Meski masih di bawah batas 60 persen PDB, tren ini perlu diwaspadai untuk menjaga keberlanjutan fiskal," tegasnya.

Ketegangan Selat Hormuz dan Gejolak Bursa Global

Ketegangan geopolitik masih menjadi pemberat utama. AS dan Iran kembali berselisih soal kendali atas Selat Hormuz, sementara serangan terhadap kapal komersial di kawasan Bab el-Mandeb meningkatkan kekhawatiran gangguan rantai pasok energi.

Kondisi ini tercermin dari bursa Eropa yang kompak melemah. Indeks FTSE 100 Inggris turun 0,10 persen dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,50 persen. Sementara itu, Wall Street masih variatif; indeks S&P 500 menguat 0,30 persen ke 7.749,19, namun Dow Jones justru melemah 0,30 persen ke 53.770,16.

Di kawasan Asia, indeks Kospi memimpin penguatan dengan melonjak 4,08 persen, disusul Nikkei yang naik 1,62 persen. Adapun indeks Hang Seng dan Straits Times masing-masing melemah 0,27 persen dan 0,55 persen.

Secara teknikal, Liza menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka selama mampu bertahan di atas 6.308-6.269. Target kenaikan berikutnya berada di kisaran 6.462 hingga 6.550, dengan resistance mayor di level 6.635/6.723. Sebaliknya, jika gagal menembus 6.377 dan turun di bawah 6.308, indeks berpotensi menguji support utama di 6.269 lalu 6.247.

Follow www.jogjamonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jogja.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks